Sabtu, 11 Juni 2016

BUDAYA KAMPAR RIAU


Suku kampar merupakan salah satu suku yang ada di kabupaten kampar, propinsi Riau, suku ini juga dikenal dengan sebutan suku Ocu, padahal sebutan ocu bukanlah nama suku tapi sebuah sebutan yang digunakan orang kampar. Suku kampar terdiri dari beberapa suku kecil, yaitu suku piliang, suku domo, suku putopang, suku kampai, dan suku mandiliong.
Penduduk Kampar kerap menyebut diri mereka sebagai Oughang Kampar, tersebar di sebagian besar wilayah Kampar. Secara sejarah, etnis, adat istiadat, dan budaya mereka sangat dekat dengan masyarakat Minangkabau. khususnya dengan kawasan Luhak Limopuluah. Hal ini terjadi karena wilayah Kampar baru terpisah dari Ranah Minang sejak masa penjajahan Jepang di tahun 1942. Menurut H.Takahashi dalam bukunya Japan and Eastern Asia, 1953, Pemerintahan Militer Kaigun di Sumatera memasukkan Kampar ke dalam wilayah Riau Shio sebagai bagian dari strategi pertahanan teritorial militer di pantai Timur Sumatera.

1.   Sejarah
Beragam asal-usul menceritakan sejarah orang kampar, salah satunya menceritakan bahwa suku kampar merupakan suku berasal dari orang-orang minangkabau. Hal ini mungkin berhubungan dengan letak kediaman suku kampar di kabupen kampar yang berbatasan angsung dengan provinsi Sumatera Barat. Selain itu, berbagai unsur kebudayaan yang ada di suku kampar mempunyai kemiripan dengan kebudayaan Minangkabau yang ada Sumatra Barat, seperti bahasa, adat istiadat, struktur pemerintahan, gaya bangunan dan lain sebagainya.
Menurut sejarah, wilayah kediaman dari masyarakat Kampar, merupakan wilayah kekuasaan dari kerajaan Pagaruyuang. Meskipun banyak kemiripan antara budaya Kampar dan Minangkabau, namun masyarakat kampar menolak diakui sebagai keturunan orang Minangkabau.
Asal usul lainnya mengenai Suku Kampar mengatakan bahwa, Suku Kampar berasal dari Melayu daratan. Anggapan ini diperkuat dengan kesamaan karakteristik yang dimiliki masyarakat Kampar dengan kebudayaan dan adat istiadat di beberapa Provinsi Riau yang sebagian besar dihuni oleh orang Melayu.
Masyarakat Kampar menggunakan bahasa kampar dalam kesehariannya. Bahasa kampar dikategorikan sebagai bagian dari rumpun bahasa melayu. Akan tetapi umur bahasa Kamapar diperkirakan lebih tua dibandingkan dengan bahasa Melayu dataran.

2.   Panggilan Suku Kampar
Dalam adat Kampar, anak pertama oleh saudara-saudaranya dipanggil dengan sebutan Uwo (berasal dari kata Tuo, Tua, yang paling tua).
Anak kedua dipanggil oleh adik-adiknya dengan kata Ongah, yang berasal dari kata Tengah, artinya anak yang paling tengah, atau anak ke dua. Sedangkan anak yang ke tiga dipanggil oleh adik-adiknya dengan nama Udo, atau anak yang paling Mudo atau yang paling Muda.
Untuk anak yang ke empat baik laki-laki maupun perempuan, juga dipanggil dengan Ocu, yang kemungkinan besar juga berasal dari kata Ongsu, yang dalam bahasa Indonesianya berarti Bungsu atau anak yang bungsu (terakhir). Anak ke lima dan seterusnya juga berhak untuk disapa dengan Ocu.
Tidak hanya dalam struktur kekeluargaan saja kata Ocu ini digunakan, tapi juga digunakan bagi anak-anak yang lebih muda kepada teman, kerabat dan sanak keluarga. Seperti anak muda kepada yang sedikit lebih tua dari pada dirinya.
Kata ini juga dipakai sebagai panggilan kehormatan dan kebanggaan (bukan panggilan kebesaran seperti gelar adat) bagi orang Kampar.

3.   Rumah Adat Kampar
Rumah Pelancangan atau rumah Lontiok adalah rumah adat yang terdapat di daerah suku kampar. Bentuk rumah Lontiok dikatakan berasal dari bentuk perahu, hal ini tercermin dari sebutan pada bagian-bagian rumah tersebut seperti: bawah, tengah, ujung, pangkal, serta turun, naik. Dinding depan dan belakang dibuat miring keluar dan kaki dinding serta tutup didinding dibuat melengkung sehingga bentuknya menyerupai sebuah perahu yang diletakkan diatas tiang-tiang.
Rumah Lontiok berfungsi sebagai rumah adat dan rumah tempat tinggal. Dibangun dalam satu prosesi panjang yang melibatkan masyarakat luas serta upacara.
Rumah Lontiok atau Lontik, merupakan rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya binatang buas dan banjir. Kolong rumah, biasanya digunakan untuk kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang atau tempat bermain anak-anak, dan gudang kayu untuk persiapan bulan puasa. Kemudian lain penyebab pemakaian konstruksi panggung adalah adanya ketentuan adat untuk memakai tangga, dengan jumlah anak tangga ganjil dan menyediakan tempayan air didekatnya untuk mencuci kaki di pangkal tangga. Ketentuan adat juga menyatakan bahwa penghuni perempuan cukup berpakaian sedada tanpa baju (kemban) di dalam rumah atau tidur-tidur dirumah tanpa adanya penyekat/pelindung ruang. Kalau rumah dibangun rendah atau “melekat” di atas tanah, maka keadaan di dalam rumah akan kelihatan dari luar rumah.
Dinding luar Rumah Lontik seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung keatas, dan kalau disambung dengan ukiran sudut-sudut dinding, kelihatan seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengjung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut Sulo Bayung. Sedangkan Sayok Lalangan merupakan ornamen pada ke 4 sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya

4.   Ritual Pernikahan Suku Kampar
Dalam adat pernikahan suku kampar ada beberapa ritual yang harus dijalani oleh masyarakat adat kampar dalam resepsi pernikahannya, berikut ini urainnya:
1.      Ibu-ibu membantu memasak di rumah mempelai wanita.
Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong dalam melakukan sesuatu termasuk dalam mempersiapkan makanan untuk resepsi pernikahan.
2.      Acara Shalawatan (Badiqiu)
Badiqiu merupakan suatu acara yang ada dalam kebudayaan masyarakat kampar. Acara ini dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.
3.      Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba'aghak)
Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan. Setelah pihak laki-laki tiba, kedua mempelai langsung di persandingkan.
4.      Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran tersebut.


Sabtu, 30 April 2016

SUNATAN MASAL DINAS UPTD P DAN K PERHENTIAN RAJA



Perhentian Raja 30 April 2016- Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Perhentian Raja bekerjasama dengan TASPEN Pekanbaru mengadakan kegiatan Sunatan Masal Geratis untuk siswa SeKecamatan perhentian raja.
.
Acara khitan berlangsung di SDN 05 Desa Hangtuah Kecamatan Perhentian Raja,. Acara khitanan ini dimulai sekitar pukul 08.30 Wib acara ini dihadiri oleh Hj Eva Juliana SE.anggota DPRD Riau dan Bang Ardo, Dubalang Kampar, Camat Perhentian Raja,Kapala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Perhentian Raja, Tambang .Kampar kiri Hilir.Gunung Sahilan Kampar Kiri Tengah dan Kampar kiri Hulu. Seluruh Kepala Sekolah dan Guru SD SeKecamatan Perhentian Raja

acara tersebut di ikuti oleh 53 orang yang berasal dari siswa SD SePerhentian Raja serta warga disekitar. Satu-persatu peserta khitan memasuki Ruangan, tangisan anak-anak yang dikhitan mulai terdengar. Peserta khitan banyak yang menangis karena takut disunat, sebagian menangis karena mendengar teman-teman yang lain menangis. Ada juga peserta khitan yang tidak menangis sama sekali.

Sebagai bentuk kepedulian TASPEN Pekanbaru dan panitia tak lupa memberikan bingkisan dan santunan yang diharapkan dapat mengobati rasa sakit setelah dikhitan.

Para orang tua wali murid berharap agar Kegiatan seperti ini lebih sering di adakan karna sangat menbantu mereka khususnya bagi mereka yang kurang mampu.

Rabu, 23 Maret 2016

Sertijab Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan

Setelah resmi dilantik beberapa waktu lalu, tiga Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan dan Kebudayaan dari 3 kecamatan gelar serah terima jabatan (Sertijab) dari yang lama kepada penggantinya yang baru dilantik, Senin (14/3) di aula kantor UPTD Perhentian Raja, Kabupaten Kampar.
Mereka adalah Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Siakhulu, dari Muryati CH M.pd kepada penggantinya Tarmizi Dabri M.si. Di Kecamatan Kampar Kiritengah dari Mahyudin S.pd kepada penggantinya Sumardi S.pd.
Di Perhentian Raja dari Itang Tarsana S.pd kepada penggantinya Pondris Wandri S.pd. Sementara Itang Tarsana menjabat Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Tambang, sedangkan Muryati CH M.pd menjabat di Rumbio Jaya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kampar H Nasrul M.pd meminta kepada kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan yang baru untuk menerima serta menjalankan amanah sebaik baiknya demi kemajuan dunia pendidikan serta terwujudnya peningkatan sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan pilar pembangunan pemda Kampar. Jadikan jabatan sebagai pengabdian untuk berbuat baik kepada masyarakat khususnya pendidikan.
Nasrul juga mengajak seluruh kepala sekolah maupun guru agar bersinergi dengan kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, ibarat sebuah kapal mereka adalah nahkodanya.
"Siapapun yang masuk ke dalam kapal kita, maka harus saling menjaga agar kapal tidak tenggelam dan bisa belayar mencapai tujuan, tekadkan dalam hati untuk menjalankan amanah sebaik baiknya, dimanapun tugas di berikan harus bisa memajukan pendidikan dimana di tugaskan," tandasnya memaparkan.
Sementara Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan yang melakukan Sertijab diwakili Muryati CH M.pd mengucapkan terimakasih kepada Pemda setempat melalui dinas pendidikan dan kebudayaan Kampar, karna telah memberikan kepercayaan kepada mereka untuk ikut berperan memajukan pendidikan di wilayah Kabupaten Kampar.
"Kepada seluruh kepala sekolah maupun guru kami memohon maaf apabila selama menjalankan tugas masih banyak kekurangan dan terimakasih atas kerjasamanya selama bertugas di Siakhulu, Perhentian Raja maupun Kampar Kiritengah," (sumber katakabar.com)

Sejarah Kepramukaan


Kalau kita mempelajari sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Hal ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan.

1. Riwayat hidup Baden Powell

  Baden Powell Lahir di Paddington London tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth Baden Powell. Beliau adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara, adapun nama-nama saudaranya yaitu Warrington, George, Augustus, Frank, Penrose, Agnes, Henrietta, Jessie, dan Baden Fletcher. Ayahnya bernama Domine Baden Powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pada tahun 1912 BP bertemu dengan calon istrinya Olave Soames dan menikah pada tanggal 30 Oktober1912 dari pernikahannya beliau memiliki 3 orang anak ( 1 laki-laki, 2 perempuan ). Pengalaman Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik diantaranya :
  • Karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
  • Dari kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
  • Sifat Baden Powell yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
  • Pengalaman di India sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
  • Terkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
  • Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
  Pengalaman ini ditulis dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik. William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu. Kemudian dipanggil 21 pemuda dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari. Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.

2. Sejarah Kepramukaan Sedunia

 Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout. Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri beliau. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.   Tahun 1918 beliau membentuk Kepanduan untuk golongan Penegak ( Rover Scout ) bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia. Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
  • Tahun 1924 Jambore II            di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
  • Tahun 1929 Jambore III          di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
  • Tahun 1933 Jambore IV           di Godollo, Budapest, Hongaria

  • Tahun 1937 Jambore V            di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
  • Tahun 1947 Jambore VI           di Moisson, Perancis
  • Tahun 1951 Jambore VII         di Salz Kamergut, Austria
  • Tahun 1955 Jambore VIII        di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
  • Tahun 1959 Jambore IX          di Makiling, Philipina
  • Tahun 1963 Jambore X            di Marathon, Yunani
  • Tahun 1967 Jambore XI          di Idaho, Amerika Serikat
  • Tahun 1971 Jambore XII         di Asagiri, Jepang
  • Tahun 1975 Jambore XIII        di Lillehammer, Norwegia
  • Tahun 1979 Jambore XIV        di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
  • Tahun 1983 Jambore XV         di Kananaskis, Alberta, Kanada
  • Tahun 1987 Jambore XVI        di Cataract Scout Park, Australia
  • Tahun 1991 Jambore XVII       di Korea Selatan
  • Tahun 1995 Jambore XVIII     di Belanda
  • Tahun 1999 Jambore XIX        di Chili, Amerika Selatan
  • Tahun 2003 Jambore XX         di Thailand
 Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park. Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss  Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen. Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.